Monday, February 9, 2015

PERASAAN YANG TAK KUPAHAMI

PERASAAN YANG TAK KUPAHAMI
Bercerita tentang hidup, banyak hal yang menimbulkan pertanyaan. kebanyakan hanya menghabiskan umurnya dengan senang-senang semau maunya. Yah saya akui saya juga dulunya seperti itu, hanya saja banyak hal yang sudah saya jalani, dan saya rasa menjalani hidup dengan cara berbuat semaunya itu adalah hal yang lebih banyak ruginya.
Cerita ini berawal dari kebiaasaanku yang selalu mengamati tingkah laku orang orang disekitar saya. Banyak teman-teman saya yang suka curhat tentang masalah pribadinya dan meminta pendapat dari saya. Ada yang mengalami masalah dengan orang tuanya, ada tentang sahabatnya, dan ada tentang pacarnya. Tapi saya paling sering mendengarkan curhatan tentang masalah asmara.
Saya selalu bingung dengan perilaku teman-teman saya, kenapa mereka senang dengan saran yang selalu saya berikan. Mereka selalu mengatakan “kamu itu sudah dewasa” padahal kalau saya pikir-pikir saya juga memiliki banyak masalah yang tidak mampu saya pecahkan. Bedanya saya tidak suka curhat, saya paling suka memendam beban saya sendiri tanpa harus teman-teman saya tahu. Karena saya pikir untuk apa mereka tahu.
Sri adalah teman saya yang paling sering curhat tentang perasaannya kepada sang pacar. Katanya “to, berhubung kamu itu laki-laki saya mau bertanya kenapa semua laki-laki paling senang mempermainkan hati perempuan?” dan saya jawab “yang harus kamu tahu jangan hanya karena beberapa laki-laki yang membuat kamu sakit, kamu beranggapan semua laki-laki itu senang mainin perempuan. Hanya saja nasibmu yang selalu berhubungan dengan lelaki yang seperti itu”. Kataku sambil mengejek
Dengan wajah menahan marah Sri mejawab “iyyah tapi buktinya sudah banyak!!!” jawabku “saya pernah mendengar kalau laki-laki itu selalu mau tetapi tidak selamnya sanggup dan perempuan itu tidak selalu mau tapi dia selalu sanggup”. Jadi yang selalu menjadi korban dalam hal asmara adalah perempuan. “iyya juga yah” kata Sri dengan wajah mulai menerima penjelasanku.
Menjalani hubungan cukup sewajarnya saja. Tidak cuek dan tidak terlalu perhatian, bayangkan ketika ada seorang cowok mengatakan “Sri aku cinta sama kamu” dan kamu juga mengatakan “iyyah aku juga cinta sama kamu”. Kira-kira kamu mau apalagi? Mau pegang tangan, atau mau pelukan? Eitz itu dosa. Realitanya, adakah orang tua yang rela melihat anak gadisnya dipeluk atau pegangan tangan dengan lelaki yang tidak dia kenal?
Kamu juga harus tahu, cinta, sayang, suka, kagum. Itu semua maknanya beda. Sri hanya terdiam karena sudah tidak bisa lagi membantah kata kataku, tetapi terlihat raut wajahnya kalau dia merasa tidak merelakan hal itu. Aku kembali memberikan sebuah pertanyaan, “kira-kira apa yang membedakan antara teman dekat dengan pacar?” jawab Sri dengan nada rendah “yah kalo teman dekat kan hanya dekat kalo pacar bisa lebih terbuka dan bebas ngapa ngapain” jawabku dengan tegas “jangan kamu anggap pacaran sama halnya dengan suami istri” pacar itu singkatannya pasangan cerita.
Jadi kalau dipikir untuk apa pacaran kalau hanya menginginkan sesorang yang bisa memahami dan mengerti keadaan kita?. Apa gunanya teman dan sahabat yang selalu ada untuk kita? Tapi entah kenapa saya juga masih pacaran? Itulah hidup yang tak kupahami.


Cerpen karangan : Otto Sukarna

KUTEMUKAN SEMANGAT ITU

KUTEMUKAN SEMANGAT ITU
Aku tertunduk meratapi nasibku yang tak pernah sama dengan teman sebayaku. Mereka dengan mudah memiliki apa yang mereka mau, sedangkan aku tak selalu mendapat yang aku inginkan. Sekalipun aku mendapat yang aku inginkan, itupun  dengan pengorbanan yang kurasa tidak sebanding. Hal yang mereka anggap biasa sedangkan aku merasa itu hal yang luar biasa. Aku selalu mencari apa yang salah sehingga aku seperti ini???. Dan ketika kutemukan, ternyata itu semakin membuat aku semakin terpuruk.
Aku selalu menuntut kesamaan dalam segala hal. Aku ingin apa mereka miliki aku pun memiliki hal yang sama. Aku selalu memimpikan harta yang melimpah, teman yang banyak, kekasih yang baik hati. Yah aku meggilai segala apa yang mereka miliki, aku selalu sibuk memperhatikan mereka dan menuntut Tuhan, “kenapa aku dilahirkan dengan lingkungan yang seperti ini” mengapa hanya hidupku yang dirundung kesulitan seperti ini? Jangankan belanja, makan pun aku tak tahu apakah hari esok aku masuh mampu makan.
Aku hidup terombang ambing dan terlunta lunta dipinggiran kota Makassar, rumah yang tidak ada, kost-kost pun tidak punya. Aku hidup berpindah pindah dari teman ke teman lainnya. Bahkan untuk persoalan makan pun aku kadang mengharap dari pemberian teman-temanku, bagiku satu bungkus indomie sudah cukup untuk melewati hidup sehari.
Suatu waktu aku berkunjung ke rumah keluarga di sekitar kota makassar. Betapa hatiku terketuk melihat kehidupan kota yang begitu kejam, anak jalanan yang tak jelas masa depannya, para pengemis dipinggiran jalan membawa anaknya yang masih balita, pengemis yang sudah tidak memiliki fisik yang utuh, betapa kejamnya kehidupan kota. Ternyata dibanding mereka yang hidup dijalanan nasibku masih lebih baik.
Aku baru menyadari ternyata betapa beruntungnya aku yang memiliki banyak teman yang selalu mendukungku, aku memiliki keluarga yang pintu rumahnya selalu terbuka kapanpun untukku, dimana keluarga sering dikatakan Benteng Terakhir Dari Kejamnya Dunia Luar, dan teman yang selalu siap membantu ketika saya dalam masalah di luar sana.
Kini kusadari ternyata hidupku hanya sibuk mengeluh dan mengeluh, menyalahkan takdir dan nasib dan menuntut terus tanpa ada usaha untuk merubahnya, kini kusadari semua itu keliru, aku harus memulai mengejar ketertinggalan masa depan yang harus aku tata baik-baik akibat kekeliruanku dihari kemarin itu.
Akhirnya aku temukan jawaban dari pertanyaan yang selalu menjadi beban di dalam hati, buat apa banyak mengeluh dan menuntut? Penyesalan hanya akan membawa luka, dendam hanya membuat kita menghukum diri sendiri. Ada banyak teman yang selalu siap membantu ketika kita dalam masalah di luar sana, dan ada keluarga yang selalu bersedia menjadi benteng terakhir kita dari kejamnya dunia di luar sana. Hanya dengan usaha dan kerja keras kita bisa mengejar mereka, menemukan cahaya bahagia bukan dari apa yang kita miliki tetapi sejauh mana kita mampu mensyukuri segalanya, maka disitulah tempat cahaya ketenangan hati berada.