KUTEMUKAN SEMANGAT ITU
Aku
tertunduk meratapi nasibku yang tak pernah sama dengan teman sebayaku. Mereka
dengan mudah memiliki apa yang mereka mau, sedangkan aku tak selalu mendapat
yang aku inginkan. Sekalipun aku mendapat yang aku inginkan, itupun dengan pengorbanan yang kurasa tidak
sebanding. Hal yang mereka anggap biasa sedangkan aku merasa itu hal yang luar
biasa. Aku selalu mencari apa yang salah sehingga aku seperti ini???. Dan
ketika kutemukan, ternyata itu semakin membuat aku semakin terpuruk.
Aku
selalu menuntut kesamaan dalam segala hal. Aku ingin apa mereka miliki aku pun
memiliki hal yang sama. Aku selalu memimpikan harta yang melimpah, teman yang
banyak, kekasih yang baik hati. Yah aku meggilai segala apa yang mereka miliki,
aku selalu sibuk memperhatikan mereka dan menuntut Tuhan, “kenapa aku
dilahirkan dengan lingkungan yang seperti ini” mengapa hanya hidupku yang
dirundung kesulitan seperti ini? Jangankan belanja, makan pun aku tak tahu
apakah hari esok aku masuh mampu makan.
Aku
hidup terombang ambing dan terlunta lunta dipinggiran kota Makassar, rumah yang
tidak ada, kost-kost pun tidak punya. Aku hidup berpindah pindah dari teman ke
teman lainnya. Bahkan untuk persoalan makan pun aku kadang mengharap dari
pemberian teman-temanku, bagiku satu bungkus indomie sudah cukup untuk melewati
hidup sehari.
Suatu
waktu aku berkunjung ke rumah keluarga di sekitar kota makassar. Betapa hatiku
terketuk melihat kehidupan kota yang begitu kejam, anak jalanan yang tak jelas
masa depannya, para pengemis dipinggiran jalan membawa anaknya yang masih
balita, pengemis yang sudah tidak memiliki fisik yang utuh, betapa kejamnya
kehidupan kota. Ternyata dibanding mereka yang hidup dijalanan nasibku masih
lebih baik.
Aku
baru menyadari ternyata betapa beruntungnya aku yang memiliki banyak teman yang
selalu mendukungku, aku memiliki keluarga yang pintu rumahnya selalu terbuka kapanpun
untukku, dimana keluarga sering dikatakan Benteng Terakhir Dari Kejamnya Dunia
Luar, dan teman yang selalu siap membantu ketika saya dalam masalah di luar
sana.
Kini
kusadari ternyata hidupku hanya sibuk mengeluh dan mengeluh, menyalahkan takdir
dan nasib dan menuntut terus tanpa ada usaha untuk merubahnya, kini kusadari
semua itu keliru, aku harus memulai mengejar ketertinggalan masa depan yang
harus aku tata baik-baik akibat kekeliruanku dihari kemarin itu.
Akhirnya
aku temukan jawaban dari pertanyaan yang selalu menjadi beban di dalam hati, buat
apa banyak mengeluh dan menuntut? Penyesalan hanya akan membawa luka, dendam
hanya membuat kita menghukum diri sendiri. Ada banyak teman yang selalu siap
membantu ketika kita dalam masalah di luar sana, dan ada keluarga yang selalu
bersedia menjadi benteng terakhir kita dari kejamnya dunia di luar sana. Hanya dengan
usaha dan kerja keras kita bisa mengejar mereka, menemukan cahaya bahagia bukan
dari apa yang kita miliki tetapi sejauh mana kita mampu mensyukuri segalanya,
maka disitulah tempat cahaya ketenangan hati berada.
lumayan mengispirasi
ReplyDelete