Monday, February 9, 2015

KUTEMUKAN SEMANGAT ITU

KUTEMUKAN SEMANGAT ITU
Aku tertunduk meratapi nasibku yang tak pernah sama dengan teman sebayaku. Mereka dengan mudah memiliki apa yang mereka mau, sedangkan aku tak selalu mendapat yang aku inginkan. Sekalipun aku mendapat yang aku inginkan, itupun  dengan pengorbanan yang kurasa tidak sebanding. Hal yang mereka anggap biasa sedangkan aku merasa itu hal yang luar biasa. Aku selalu mencari apa yang salah sehingga aku seperti ini???. Dan ketika kutemukan, ternyata itu semakin membuat aku semakin terpuruk.
Aku selalu menuntut kesamaan dalam segala hal. Aku ingin apa mereka miliki aku pun memiliki hal yang sama. Aku selalu memimpikan harta yang melimpah, teman yang banyak, kekasih yang baik hati. Yah aku meggilai segala apa yang mereka miliki, aku selalu sibuk memperhatikan mereka dan menuntut Tuhan, “kenapa aku dilahirkan dengan lingkungan yang seperti ini” mengapa hanya hidupku yang dirundung kesulitan seperti ini? Jangankan belanja, makan pun aku tak tahu apakah hari esok aku masuh mampu makan.
Aku hidup terombang ambing dan terlunta lunta dipinggiran kota Makassar, rumah yang tidak ada, kost-kost pun tidak punya. Aku hidup berpindah pindah dari teman ke teman lainnya. Bahkan untuk persoalan makan pun aku kadang mengharap dari pemberian teman-temanku, bagiku satu bungkus indomie sudah cukup untuk melewati hidup sehari.
Suatu waktu aku berkunjung ke rumah keluarga di sekitar kota makassar. Betapa hatiku terketuk melihat kehidupan kota yang begitu kejam, anak jalanan yang tak jelas masa depannya, para pengemis dipinggiran jalan membawa anaknya yang masih balita, pengemis yang sudah tidak memiliki fisik yang utuh, betapa kejamnya kehidupan kota. Ternyata dibanding mereka yang hidup dijalanan nasibku masih lebih baik.
Aku baru menyadari ternyata betapa beruntungnya aku yang memiliki banyak teman yang selalu mendukungku, aku memiliki keluarga yang pintu rumahnya selalu terbuka kapanpun untukku, dimana keluarga sering dikatakan Benteng Terakhir Dari Kejamnya Dunia Luar, dan teman yang selalu siap membantu ketika saya dalam masalah di luar sana.
Kini kusadari ternyata hidupku hanya sibuk mengeluh dan mengeluh, menyalahkan takdir dan nasib dan menuntut terus tanpa ada usaha untuk merubahnya, kini kusadari semua itu keliru, aku harus memulai mengejar ketertinggalan masa depan yang harus aku tata baik-baik akibat kekeliruanku dihari kemarin itu.
Akhirnya aku temukan jawaban dari pertanyaan yang selalu menjadi beban di dalam hati, buat apa banyak mengeluh dan menuntut? Penyesalan hanya akan membawa luka, dendam hanya membuat kita menghukum diri sendiri. Ada banyak teman yang selalu siap membantu ketika kita dalam masalah di luar sana, dan ada keluarga yang selalu bersedia menjadi benteng terakhir kita dari kejamnya dunia di luar sana. Hanya dengan usaha dan kerja keras kita bisa mengejar mereka, menemukan cahaya bahagia bukan dari apa yang kita miliki tetapi sejauh mana kita mampu mensyukuri segalanya, maka disitulah tempat cahaya ketenangan hati berada.  

1 comment: